
Jakarta, 12 Oktober 2026 – PT Sang Hyang Seri (Persero) terus memperkuat langkah transformasi perusahaan melalui pengembangan riset, inovasi, dan kemitraan internasional. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pertemuan dengan Kedutaan Besar Uni Emirat Arab (UEA) di Jakarta, Senin (12/10/2026), guna menjajaki peluang kerja sama strategis di bidang perbenihan, pengembangan genetika tanaman, dan ketahanan pangan.
Dalam pertemuan tersebut, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero), Adhi Cahyono Nugroho, memaparkan arah transformasi perusahaan menuju Tropical Genetics Company, yakni perusahaan yang berfokus pada pengembangan benih unggul berbasis riset, pemuliaan tanaman, dan teknologi genetika yang sesuai dengan karakteristik iklim tropis.
Penjajakan kerja sama ini menjadi bagian dari upaya SHS untuk memperluas akses terhadap teknologi, meningkatkan kapasitas penelitian, serta membuka peluang kemitraan internasional dalam mendukung penguatan industri perbenihan nasional.
“Kami ingin membawa Sang Hyang Seri menjadi perusahaan benih yang tidak hanya berorientasi pada produksi dan pemasaran, tetapi juga memiliki kekuatan dalam riset dan pengembangan genetika tanaman. Melalui penjajakan kerja sama dengan Uni Emirat Arab, kami berharap dapat membangun kolaborasi yang memberikan manfaat bagi pengembangan teknologi pertanian dan ketahanan pangan,” ujar Adhi.
Menurut Adhi, perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan menjadi tantangan yang harus dijawab melalui inovasi teknologi dan pengembangan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Sebagai perusahaan yang memiliki pengalaman panjang di industri perbenihan sejak 1971, SHS terus melakukan pembenahan fundamental melalui penguatan bisnis inti, peningkatan kualitas benih, optimalisasi aset, serta pengembangan kemampuan riset dan inovasi.
Transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi SHS sebagai perusahaan perbenihan nasional yang mampu menghasilkan produk berkualitas sekaligus mengembangkan teknologi genetika tanaman yang memiliki daya saing.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas peluang kolaborasi yang sejalan dengan perhatian UEA terhadap pengembangan teknologi pertanian dan ketahanan pangan.
Beberapa potensi kerja sama yang dijajaki antara lain pengembangan riset genetika tanaman, pemuliaan varietas unggul, teknologi produksi dan penyimpanan benih, serta penerapan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Selain kerja sama teknologi, SHS juga membuka peluang dukungan pendanaan dan kemitraan strategis untuk memperkuat fasilitas penelitian, pengembangan laboratorium genetika, serta peningkatan kapasitas industri perbenihan.
“Kami melihat peluang untuk mengembangkan kerja sama yang tidak hanya memberikan manfaat bagi Indonesia, tetapi juga berpotensi mendukung kebutuhan teknologi pertanian di negara-negara dengan kondisi iklim yang berbeda. SHS ingin membangun kemampuan riset genetika tropis yang dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi ketahanan pangan,” tambah Adhi.
Melalui pertemuan ini, SHS berharap Kedutaan Besar UEA dapat memfasilitasi komunikasi dengan institusi pemerintah, lembaga penelitian, maupun mitra strategis di Uni Emirat Arab yang memiliki kesamaan kepentingan dalam pengembangan teknologi pertanian.
Pertemuan tersebut merupakan tahap awal penjajakan kerja sama yang selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui penyampaian proposal dan pembahasan lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait.
Ke depan, SHS berkomitmen memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan benih unggul, pengembangan inovasi genetika tanaman, serta perluasan kemitraan strategis di tingkat internasional.
Transformasi menuju Tropical Genetics Company diharapkan dapat menjadi langkah penting bagi SHS dalam membangun industri perbenihan nasional yang lebih modern, inovatif, dan berdaya saing global.












